Rumah Guru Utama itu Ibu dan Ayah

“Pendidikan Keluarga Pendidikan Masa Depan,

Sekolah Inti adalah Rumah Guru Utama itu Ibu dan Ayah”

“Ibu putranya berapa? Anak ibu sekolah dimana? Kelas berapa?”

Begitulah kira-kira pertanyaan yang lazim diucapkan teman lama atau orang yang baru kita kenal disaat kita bertemu. Dan tentu saja lazim pula mereka menunggu jawabannya. Tapi barangkali banyak orang merasa heran bahkan tidak percaya saya menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan, “Anak saya tidak sekolah!” .

Kemudian dengan rasa penasaran biasanya mereka menlanjutkan pertanyaan , “Kenapa anak ibu tidak sekolah?”. Saya menjawab apa adanya, “Alasan dia tidak mau sekolah, karena kalau sekolah capek. Banyak tugas!” Tapi terkadang saya menjavab agak ‘nakal’ , “Ibu sekolah itu tidak wajib. Yang wajib itu belajar!” Tentu saja jawaban saya ini membuat orang terperangah.

Pertanyaan berikutnya ‘Kalau tidak sekolah lalu bagaimana belajarnya?” “Bagaimana ijasahnya?” Bagaimana sosialisasinya?” Dengan santai aku menjawab apa adanya, “Belajar tidak harus sekolah. Yang penting bagi saya, anak bisa menulis, berhitung dan membaca , jika sudah lancar membaca kita tinggal menyediakan buku, perpustakaan, bukankah buku jendela dunia? selebihnya kami memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan anak dalam mengembangkan potensi dirinya. Anak memiliki minat sesuai potensi yang dia punyai, kita orangtua tinggal memfasilitasi. Lagi pula saya mengarahkan anak dalam belajar jangan setengah-setengah harus sampai tuntas harus menjadi seorang ahli, tentu saja anak harus duilatih dan diniasalan tertib dan disiplin. Yang lebi penting dari itu semua harus dilandasi dengan moral yang baik. Inti moral baik adalah kejurujuran. Saya percaya dengan bekal itu nantinya dia akan mandiri!”

“Untuk sosialisasinya dia kami beri ruang bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada lingkungan sekitar; kepada tetumbuhan, hewan, tanah, air dan udara. Karena semua saling membutuhkan , saling menjaga, saling menghormati, saling menyayangi. Misalnya; menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Bagaimana dia memelihara tanaman agar tumbuh subur .Artinya kami berupaya melatih dan membiasakan agar dia punya kepekaan terhadap ‘alam raya ini’ .

Namun yang terus berlangsung dalam paradigma masyarakat umumnya SEKOLAH sana dengan PENDIDIKAN atau PENDIDIKAN sama dengan SEKOLAH. Kalau saja kita mau mengkaji ulang seseungguhnya “SEKOLAH hanya bagian kecil dari PROSES PENDIDIKAN”. Lebih sistematis dalam buku berjudul SEKOLAH ITU CANDU (Roem Topatimasang) “SEKOLAH dalam bahasa aslinya (latin) dengan istilah skhole, scola , scolae atau schola keempat kata tersebut punya arti yang sama: “Waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” Atau kalau boleh dengan kata lain saya mengartikan istilah SEKOLAH ; “ Mengisi waktu luang dengan belajar” Dengan demikian SEKOLAH tidak harus berjam-jam berada dalam ruang. Sekolah bisa berlangsung dimana saja baik ruang tertutup maupun terbuka.Antara lain di kereta, di becak, di mobil, di halaman, di kebun, di pasar, di angkringan, di warung makan. Atau misal saja ; anak ingin belajar berternak ayam, langsung kita ajak ke perternakan ayam. Dan kapan saja. Gurunya bisa siapa saja., sesuai dengan kebutuhan anak dalam belajar. Karena setiap insan punya kelebihan dan kekurangan. Siapa yang memiliki kelebihan harus mau menjadi guru, bagi yang memiliki kekurangan begitupun sebaliknya.

Sesungguhnya kita sebagai orangtua bisa menjadi guru bagi anak-anak kita. Kalau saja kita mau “MELUANGKAN WAKTU UNTUK MEREKA!”

Dalam buku saya berjudul “Jangan Malu Berkata Saya Ibu Rumah Tangga” bahwa pendidikan bermakna upaya mendewasakan seseorang atau sekolompok orang lewat pembiasaan, pelatihan dan pengajaran. Dengan demikian tujuan dari pendidikan ‘menedewasakan ‘peserta didik. Sedangkan sekolah bertujuan memberi pengetahuan kepada murid.

Seseorang bisa dikatakan dewasa kalau dia bisa mandiri. Artinya seseorang yang mandiri mampu menciptakan lapangan kerja. Seseorang bisa disbut dewasa; jika dia bisa bertanggungjawab, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan bersikap arif, beradab dan berakhlak. Itulah output dari pendidikan. Sedangkan output ‘persekolahan’

Yang sudah menjadi ladang ‘bisnis’ outputnya ‘selembar ijasah’ yang ditulisi dengan angka-angka dan titel.

Apa yang saya utarakan di atas, saya peroleh dari suami. Bayangkan selama saya sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, saya tidak pernah dijelaskan oleh guru atau dosen apa itu SEKOLAH . Apa itu PENDIDIKAN sehingga kalau boleh mengatakan dengan jujur , ‘Saya adalah salah satu korban dari sebuah lembaga persekolahan yang mencetak diri saya menjadi ‘kacung’” Lalu yang menjadi pertanyaan saya kepada suami, “ Sebetulnya para guru, dosen, atau yang disebut pakar pendidikan” Apakah mereka megetahui istilah SEKOLAH dan makna PENDIDIKAN?”. Kalau sudah tahu mengapa mereka tidak pernah menjelaskan hal itu kepada para orang tua, para murid dan seluruh mahasiswa di negeri ini ?. Dengan santai dan entengnya suamiku mengatakan, “Kalau hal itu dipahami banyak orang, barangkali dikhawatirkan ‘dunia persekolahan’ tidak laku!” Dengan jawaban suamiku itu, aku terdiam membawa pemikiran yang dalam untuk melakukan,

“Pendidkan Keluarga Pendidikan Masa Depan, Sekolah Inti adalah Rumah Guru Utama itu Ibu dan Ayah”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: